Sejarah Bahasa Indonesia (#1)

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, perjuangan untuk mempersatukan rakyat indonesia dalam rangka memperoleh kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka di era penjajahan. Sebelum  bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, rakyat Indonesia telah memiliki bahasa dari daerahnya masing-masing, ada yang dari suku Jawa dengan bahasa Jawanya, ada yang dari suku Batak dengan bahasa Bataknya, ada yang dari suku Sunda dengan bahasa Sundanya. Rekam jejak sejarah telah mencatat bahwa untuk membentuk sebuah bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang mengalahkan bahasa etnis dan suku rakyat Indonesia yang beraneka ragam, ternyata membutuhkan perjuangan yang sangat panjang.

Bahasa Melayu Sebagai Cikal Bakal Bahasa Indonesia
Sutan Takdir Alisjahbana dalam bukunya ” Sedjarah Bahasa Indonesia “, mengutarakan ” bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama sehingga dipakai di Nusantara. Persebarannya juga luas karena bahasa Melayu dihidupi oleh para pelaut, pengembara dan saudagar yang merantau kemana-mana. Bahasa Melayu adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh di kalangan  penduduk Asia Selatan.”
13447496421579349143
sutan takdir alisjahbana (alisjahbana.org)

Pada era pemerintahan Belanda di Hindia, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal. Persaingan antara bahasa Belanda dan Melayu semakin ketat, sehingga memaksa Gubernur Jendral Roshussen mengusulkan agar menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat.

Dari pihak pemerintah Belanda tak mau kalah mereka gigih melakukan aksi penolakan terhadap penggunaan bahasa Melayu di Indonesia, lewat Van der Chijs seseorang yang berkebangsaan Belanda, mengusulkan agar sekolah-sekolah di Indonesia memfasilitasi bahasa Belanda. Direktur Pengajaran pada tahun 1900 yang saat itu dijabat oleh JH Abendanon berhasil memasukkan bahasa Belanda menjadi mata pelajaran wajib baik disekolah rakyat, maupun di sekolah pendidikan guru.

Persaingan bahasa Belanda dan Melayu, nampaknya berhasil dimenangkan oleh bahasa Melayu, karena bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah dipelajari, sedangkan bahasa Belanda hanya segelintir orang yang mampu mempelajarinya. Sehingga pada Kongres Pemuda I pada tahun 1926, bahasa Melayu menjadi wacana untuk dikembangkan menjadi bahasa dan sastra Indonesia.
28 Oktober 1928
13447491642117737120
naskah otentik Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia (andy.web.id)
Di kongres pemuda II, yang dilaksanakan pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 seluruh barisan pemuda dari seluruh penjuru tanah air bersatu  membentuk sebuah kesepakatan dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Panitia kongres pemuda II terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris     : Mohammad Jamin ( Jong Sumateranen Bond )
Bendahara   : Amir Sjarifuddin ( Jong Bataks Bond )
Pembantu I  : Djohan Mohammad Tjai ( Jong Islamieten Bond )
Pembantu II : R. Katja Soengkana ( Pemoeda Indonesia )
Pembantu III : Senduk ( Jong Celebes )
Pembantu IV : Johanes Leimena ( Jong Ambon )
Pembantu V : Rochjani Soeóed ( Pemoeda Kaoem Betawi )
Dan terdiri dari 71 Peserta.
Terbentuklah sebuah kesepakatan yang dikenal dengan Ikrar Soempah Pemoeda yang berbunyi :
—————————————————————————————————————————————————
SOEMPAH PEMOEDA Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Jebol Akun FB dengan Email

Sarjana kok Nganggur...!!!

Mau Sukses...?Jadilah Orang Gagal yang Juara